Wednesday, 25 April 2007
BMW ALPINA B7, Ketangguhan Mesin Mobil Mewah
<!–
function ShowDetail(obj,objimg){
if (obj.style.display==”"||obj.style.display==”none”){
obj.style.display = “inline”;
//objimg.src =’/img/minus.gif’;
}else{
obj.style.display = “none”;
//objimg.src =’/img/plus.gif’;
}
}
//–>
|
Publik yang mengetahui performa mobil BMW tentu sangat paham dengan label yang melekat pada penampilan dan teknologi produk pabrikan Jerman ini, yakni performa, kualitas, kemewahan dan keamanan. Lalu apa jadinya jika terjadi perpaduan dengan hasil pabrikan lain, misalkan dengan mesin ALPINA?
Sejarahnya, BMW di era 1960-an pernah melakukan kerjasama dengan ALPINA yang memiliki konsentrasi pengembangan bisnis mesin otomotif, terutama mesin balap. Pada tahun 1961, BMW mencangkokan mesin ALPINA ke dalam BMW 1500 sedan-nya. Dengan konsep dual-carburator, mobil ini laris di pasaran.
Kabar terbaru dari carconcept.com, ALPINA kembali mensuport BMW untuk mobil seri 7-nya. Dengan hasil perpaduan tersebut lahirlah BMW ALPINA B7. Rencananya mobil ini akan diperkenalkan tahun ini juga di Chicago, Amerika Serikat.
BMW Alpina B7 dilengkapi dengan mesin V-12, yang memiliki kekuatan setara dengan 438 tenaga kuda (horsepower). Dengan kombinasi teknologinya, silinder mesin V8 ditambah dengan valvetronic dan kompresor, menurut pabrikan bisa mendongkrak kekuatannya hingga 500 tenaga kuda.
Dengan Valvetronic, sistem regulasi keluaran tenaga pada intake-valve bisa “didongkrak”. Misalkan dengan kapasitas 4.4 liter bisa mengirimkan tenaga 325 hp pada setiap percepatan 6.100 rp, dan torsi hingga 330 lb-ft pada 3.600 rpm.
Dengan adanya tambahan supercharging (kompresor) pada mesin Alpina B7, plus turbocharging, mesin mobil ini mampu mengubah kekuatan pada hasil pembakaran menjadi tenaga ekstra.
Sebuah kompresor membantu menggerakkan mesin lebih cepat, sementara turbocharger menggerakkan aliran hasil pembakaran. Dengan konsep ruang mesin ini, pembakaran relatif bersih dengan hasil suara mesin yang lebih halus. Tidak hanya itu dengan Valvetronic regulating, hasil pembakaran bahan bakar menjadi lebih efisien.
Dijelaskan conceptcar.com, sebetulnya bentuk modifikasi BMW dengan alpine menghasilkan beberapa keuntungan. Selain lebih hemat juga ditunjang dengan komponen fisik yang membuat tampilan menjadi lebih kuat dan tangguh.
Misalkan saja, poros engkol (crankshaft) yang dihubungkan langsung dengan tanki menjadikan lebih kokoh. Kemudian piston modif yang mampu menekan kompresi hingga rasio 9.0:1 (sebelumnya 10,5:1). Bagian lain yang kena sentuhan modif yakni pada cylinder-head gasket, belt driver pada supercharger, hingga Specific sparkplugs.
BMW Alpina B7 menggunakan sasis seri 7 yang sudah terbukti memiliki kekuatan maksimal. Dilengkapi dengan actif roll stabilization yang mampu men-counter gerakan liar (body roll) ketika mobil melakukan manuver pada tikungan.
Dengan dukungan ban Michelin, plus teknologi kalibrasi per dan shock absorbers menjadikan gerakan mobil lebih halus. Untuk sistem pengereman Alpina B7 mengadopsi model BMW 760i yang konon memiliki dimensi lebih kecil namun kemampuannya lebih tinggi.
Sejumlah piranti eksterior ALPINA merupakan hasil modifikasi, misalkan pada bagian bumper depan yang dipadu dengan spoiler ensemble sehingga tampak lebih sporti. Kemudian, velg sporti 20 inch dengan balutan ban Michelin yang menjadikan gerakan bodi menjadi lebih stabil dan lincah. Pada bagian pintu/jendela juga dilengkapi framing, plus shadowline trim.
Selain kesan eksklusif yang ditangkap dari penampilan fisik. Mobil ini juga tangguh dan sporty. Bagi yang mengendarainya, kenyamanan dalam berkendaraan menjadi hal yang penting. Upaya ini dipenuhi dengan melengkapi interior mobil dengan piranti yang membuat pengendaraan nyaman, misalkan terdapat sebuah radio/single CD player, hingga pemutar DVD.
(kano/pra)